Friday, April 26, 2013

Suka Duka Tinggal di Kepulauan (Part I)

Hai Kawan, adakah yang sudah pernah ke Kepulauan? Selain Kepulauan Seribu lho yaa. Mungkin beberapa dari teman-teman ada yang memang sudah tinggal di Kabupaten yang bentuknya kepulauan, dan kabar gembiranya adalah...taarraraara..saya menyusul Anda, tinggal di Kepulauan juga.. :)), tepatnya Kabupaten Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah dalam rangka menyusul suami tercinta saya. Hmm, jangankan di kepulauan, ke ujung dunia pun saya rela ngikut kemana pun kau pergi kandaku.. ^^ #tsaaahh..

Yak, kita mulai dengan cerita yang enak-enak dulu. Awal kedatangan saya di sini, saya takjub sekali dengan keindahan alam di sini. Secara dari Jakarta yang padat, yang pemandangannya kendaraan bermotor dan gedung-gedung megah, kalo disuguhi alam perawan pasti melotot, girang banget liat yang seger-seger. Apalagi di kepulauan yang pemandangannya dobel, gunung bukit kaya' di Puncak Bogor ada pantai lautan pun ada. Hmm, saya pun merasa pasti bakalan betah di sini karena tiap hari bisa cuci mata gratis tiap hari. Liat laut bersih pengennya nyemplung berenaaanng, meski saya belum bisa berenang,,hehehhe. Saya kasi liat beberapa foto amatir dari kamera hp saya, saat rekreasi di Pantai Teduang, Pulau Peling, Banggai Kepulauan, indah yaa..

Siapa coba yang tidak suka lihat pemandangan kaya begini? Dari dulu memang pantai selalu menarik perhatian saya, meski saya ga bisa berenang, cuma berendam doang bisanya, hehehe. Oya, ada satu hal yang tidak bisa terlewatkan dari pantai, lihat sunset dan sunrise (susah kalo sunrise, kecuali kalo kita bermalam di situ :p). Tapi sayangnya saya ga pernah dapet momen apik itu. Dua kali pergi ke sana pas mendung, ga ada matahari, tapi suasana yang bagus untuk berenang, ga bikin gosong. ^^
Jadi, akhirnya setelah sekian lama saya tinggal di daerah pesisir tanpa pernah berani mencoba mencicipi airnya, saya baru mau berenang ketika sudah di kepulauan. Pasti tergoda untuk nyemplung kalo lihat airnya yang jernih dan bebas sampah, minimal ngerendam kaki, :p. Dan memang benar, saya yang dulunya tidak suka berenang, tiap minggu pengennya ke sanaaa terus. Sekaligus cuci mata (dalam arti yang sebenarnya, pake air laut, hahahaha).


Hebatnya lagi, karena belum ada yang kelola pariwisata dengan baik di sini, jernihnya laut ini bisa kita nikmati tanpa membayar sepeser pun, asik tidak??? :)) (ini di luar biaya transportasi ke sana lho ya, kalo pake motor ya minimal beli bensin lah, 1 liter aman lah sampe pulang ke kosan lagi. Mau jalan juga boleh, sekalian naek gunung, hehehhe.).

Ada satu hal lagi yang baru saya pelajari setelah saya di Bangkep, yaitu skill yang satu ini --> Mengendarai Motor, huffftt,,saya baru mau belajar setelah di sini, karena memang mau tidak mau harus bisa, hahahha, dalam hal ini, ter-pak-sa. Karena kalo ga bisa naek motor, ga bisa kemana-mana, tergantung terus sama orang. Dan meskipun sekalinya belajar langsung di medan yang tanjakannya banyak dan curam, saya akhirnya bisa juga, ya paling tidak dari kosan ke kantor alhamdulillah selamat, hahahha.

Satu hal lagi yang menyenangkan di kepulauan, banyak seafood-nyaaaa. Ya Allah Ya Robbi, itu seafood kaya ga ada abisnya, dan tentu saja dengan harga murah dan ciamik (yang mentah lho yaa, di pasar belinya, bukan yang udah mateng di restoran kaya' di kota). Untungnya saya bukan penderita alergi makanan laut, bisa menderita di sini, karena harga daging ayam maupun sapi relatif mahal, dan belinya ga kiloan (bayangin kalo pengen ayam kita harus beli 1 ekor, emang mau selametan?).

Intinya, di kabupaten bernbentuk kepulauan seperti ini, dan relatif terpencil di ujung timur Sulawesi Tengah, kehidupan masih sangaaaat sederhana, dan penuh ketenangan. Pergi kantor ga perlu cepet-cepet karena takut ga kebagian angkot, pulang pun ga perlu buru-buru karena takut keabisan angkot. Jarak kosan ke kantor paling jauh 5 menit naik motor, mau bangun siang pun bisa sodaraaa.. ^^.

1 comment: