Monday, May 13, 2013

Suka Duka Tinggal di Kepulauan (Part II)

Hmm.. Tempo hari saya sudah menceritakan betapa bahagianya tinggal di kepulauan. Eits, nanti dulu, Tuhan menciptakan segala sesuatu beserta pasangannya, kalo ada enaknya, ga enaknya ada juga don, ga seru ntar ^^.

Kelebihan dari tempat terpencil (ga juga sih menurutku, saya sih ga merasa mencil-mencil amat) cuma satu, karena masih belum banyak orang, dijamin tempatnya perawan, alias masih asriiiiiiiiii banget. That's it. Namun terkait dengan kehidupan sosial, otomatis kalo orangnya minim, kehidupan sosialnya juga minimalis, yang berakibat pada terbatasnya fasilitas yang tersedia di sini.

Bagi orang yang sejak lahir udah dimanjakan oleh gemerlapnya Pulau Jawa seperti saya, kaget sih jelas (tapi biasa aja juga kalee, ga sampe mewek-mewek trus minta pulang ke Jawa lagi). Yang jadi masalah besar buat saya adalah terbatasnya air bersih (jangan dikira mentang-mentang dekat laut dan samudra di sini trus sumber air bersih gampang didapetin). Bagaimana tidak, lha wong saya biasa kalo mandi air satu bak kamar mandi bisa saya abisin. Dikit-dikit cuci tangan, cuci kaki, kena debu dikit cuci sana cuci sini. Belum lagi kalo cuci baju, air satu tong juga bisa saya abisin (cucian satu minggu soalnya, hehe). Lha di sini? Hmm, jangan harap main-main air gitu. Dan kau yang masih di Jawa, bersyukurlah sepanjang waktu karena masih banyak sumber air bersih di sekitarmu. Kalo tidak, kualat lho ntar!!