Kalo pernah belajar demografi, pasti pernah tau (atau setidaknya pernah
denger dan nyerempet-nyerempet dikit) istilah transisi demografi. Sedikit
penjelasan, teori tentang transisi demografi menjelaskan tentang adanya
perubahan yang terjadi pada struktur penduduk akibat berubahnya pola
pertumbuhan penduduk, yang sebelumnya mengalami tingkat pertumbuhan penduduk
tinggi namun akhirnya mengalami tingkat pertumbuhan penduduk rendah (sumber:
rangkuman dari catatan-catatan semasa kuliah, CMIW). Kurang lebih seperti
itulah. Yang mau saya ceritakan pada episode ini bukan transisi demografinya,
tapi transisi cita-cita. Hehe. Sedikit memaksa :p.
Istilah transisi mengandung arti 'peralihan dr keadaan (tempat, tindakan,
dsb) pd yg lain' (KBBI online). Nah istilah transisi cita-cita ini sebenernya
ga ada sangkut pautnya ama teori-teori transisi manapun, cuma iseng-iseng aja
minjem istilah transisi biar rada keren dikit :D. Saya sebenernya cuma pengen
curhat masalah cita-cita saya yang ga kesampaian dulu.
Dulu sekali, waktu saya masih kecil, sama seperti anak kecil yang pada
umumnya labil, kalo ditanyain cita-cita saya langsung jawab: Pramugari.
Alasannya sepele, karena pramugari cantik, hadeeehh, anak kecil kadang-kadang
suka kepedean. Lalu suatu saat ketika saya sakit dan diajak berkunjung ke
dokter, seketika itu juga saya langsung berpaling dari kecantikan pramugari.
Saya ingin sekali jadi dokter. Di pikiran saya dokter tuh selalu rapi jali,
bersih, ramah, suka menolong, pintar dan sejahtera hidupnya. Yaelaaah..
Keinginan jadi dokter terus bertahan sampe saya SMA. Yang lebih memotivasi
saya pengen jadi dokter bukan tampilan fisik dokter lagi, tapi lebih pada
keinginan saya mengobati plus merawat keluarga dan orang lain yang sedang
membutuhkan pertolongan (wow, mulia sekali yaaa..). Ampe saya bela-belain di
SMA ikut ekskul PMR, dan masuk jurusan IPA tentunya. Dan entah kenapa saya suka
pelajaran biologi. Bener-bener niat deh pokoknya. Padahal saya ngerti sekolah
dokter tuh berat. Sampailah suatu ketika dimana salah seorang guru SMA saya
bercerita bahwa ada putra tetangganya masuk kedokteran dan biayanya
naudzubillah mahalnya, sekolahnya lama, dan sekarang persaingan masuk dunia
kerjanya semakin sulit. Seketika nyali saya langsung ciut, yang terlintas
pertama kali dalam benak saya adalah bapak ibu di rumah. Saya ga pengen bapak
ibu saya terlalu berat menyekolahkan saya. Galau lah saya waktu itu. Cita-cita
dokter semakin jauh di langit sana.
Sampai akhirnya, saya konsultasi ke ibu guru BK (Bimbingan Konseling) untuk
minta petunjuk, kuliah apa yang dunia kerjanya terjangkau (baca: bisa langsung
kerja setelah lulus). Saat itu saya diberi saran untuk mencari Perguruan Tinggi
Kedinasan (PTK), Poltek, atau Poltekkes, soalnya ketiga jenis perguruan tinggi
itu lebih menitikberatkan pada praktek, jadi siap kerja kalo udah lulus. Lalu
setelah musyawarah ama orangtua saya, saya pun memilih untuk kuliah di
kebidanan saja (tetep masih satu jalur ama dokter tadi, tak bisa dokter, bidan
pun jadi :D). Daftar deh di Poltekkes jurusan kebidanan lewat PMDK.
Alhamdulillah piagam-piagam sewaktu ikut lomba PMR sangat membantu, akhirnya
saya pun dapet kursi di kebidanan. Horeeee..!! Tapi selain ikutan tes kebidanan
Poltekkes, saya juga ikutan tes masuk salah satu perguruan tinggi kedinasan,
Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), karena saya tergiur ikatan dinasnya
setelah kuliah nanti dan tentunya murah (sekolahnya gratis looohhh..).
Tak disangka tak dinyana, ternyata kuliah kebidanan sama beratnya dengan
kulaih kedokteran. Baru seminggu saya kuliah di kebidanan saat saya dinyatakan
lulus tes STIS. Dan setelah saya konsultasikan dengan orangtua, akhirnya saya
putuskan untuk meninggalkan dunia kesehatan dan beralih ke dunia statistik
(mimpi apa saya kuliah di jurusan berhitung gitu, padahal sewaktu SMA saya udah
memantapkan diri untuk kuliah di bidang yang ga ada hitung-hitungannya,
ternyata...).
Awal-awal merintis ilmu di dunia statistik, saya merasa saya salah masuk
jurusan, kesulitan mengejar kemampuan teman-teman yang rata-rata jago
matematika semasa SMA dulu. Tapi karena sudah terlanjur
nyemplung, mau tidak mau saya harus
survive. Yaa belajar dikit-dikit, pelan-pelan, pegang prinsip orang
jawa
alon-alon waton kelakon. Dan
setelah empat tahun berjuang, akhirnya,,, saya LULUS!!! Saya sangat bersyukur
sekali bisa melalui masa-masa sulit (tapi menyenangkan, karena di STIS inilah
saya bertemu jodoh saya ^^), bertemu dosen dan teman-teman hebat juga unik,
luar biasa banget deh pokoknya. Lulus dari STIS ini sekaligus menobatkan saya
menjadi seorang statistisi (ahli statistik-red), ya ga ahli juga si
sebenarnya..hahaha
Yak, meskipun akhirnya saya tak bisa jadi dokter, saya yakin
seyakin-yakinnya, statistisi juga profesi penting kok. Coba kalo ga ada
statistisi, sapa coba yang nyari dan ngitungin data jumlah penduduk,
kemiskinan, inflasi, produksi beras, dsb? Intinya, setiap profesi itu saling
mengisi dan membantu, harus bangga dan ikhlas dong apa pun pekerjaan kita. Dan
akhirnya, cita-cita saya sekarang adalah, menjadi statistisi yang profesional,
berintegritas, dan amanah.. ceileeee...doain yaaa..^^