Yup, awal mula memulai hidup di lingkungan baru itu rasanya selalu sama --> kikuk, bingung, pengennya cepet pulang, pegang hp terus sambil sms temen-temen lama. hahaha. Tapi mau tidak mau kita semua (sebagian besar lah) pasti mengalaminya, betul? Harus betul (maksa, :p). Itulah yang dinamakan adaptasi. Adaptasi secara singkat bisa diartikan bagaimana makhluk hidup menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal. Namun bagi manusia penyesuaian tersebut tidak hanya penyesuaian secara fisik, tapi juga mencakup penyesuain secara tingkah laku sosial.
Beradaptasi dengan kehidupan baru mungkin menimbulkan efek samping yang berbeda bagi setiap orang. Sebagian orang merasa bahwa berkunjung atau merantau ke tempat yang baru adalah tantangan yang menyenangkan, tapi bagi sebagian yang lain, merantau adalah hal yang mengerikan. Hmm, luar biasa memang. Tapi, saya jamin, setelah beberapa lama di tempat baru, kita akan menemukan indahnya keunikan di sekitar kita, ceileee..
Bagi saya, merantau bukanlah hal yang baru. Saya merantau sejak SMA (ga merantau juga sih, lebih tepat kalo dibilang "ga tinggal sama orang tua lagi", hahaha). Setelah lulus SMP, saya belajar mandiri ngikut kakak saya di luar kota untuk mengenyam pendidikan yang lebih baik. Awal perpisahan, yang dikhawatirkan kedua orang tua saya terjadi. Saya menjadi orang yang pemurung, dieeeeeeemmm aja kerjaannya, nangis hampir tiap hari, sampai-sampai mendapat gelar GONG, ga berbunyi kalo ga dipukul (ga ngomong kalo ga diajak ngomong maksudnya), hufft, luar biasa sekali efeknya. Di sekolah saya ga kerasan, ditambah dengan rasa minder bertemu dengan teman-teman yang sebagian besar lulusan SMP terbaik di kota itu, sementara saya cuma lulusan SMP favorit di kecamatan tempat saya tinggal dulu, hahaha. Di rumah kakak pun saya ga kerasan karena inget terus sama orang tua dan adik saya tercinta.
Tapi ternyata perpisahan dengan orang tua membuat saya teringat dosa-dosa saya sama bapak-ibu saya. Saya sangat menyesali perilaku nakal saya selama tinggal dengan orang tua. Imbasnya, entah kenapa, saya jadi rajin belajar cuuyy!! Motivasi ingin memberikan yang terbaik sebagai penebus dosa sangat berefek sekali kala itu. Ditambah keinginan keras untuk menghilangkan rasa minder di sekolah. Hmm, ada gunanya juga ternyata dipisahkan dari orangtua :DD.
Di akhir SMA, saya sudah bisa menerima kenyataan bahwa mau tidak mau, cepat atau lambat, hidup mandiri dan jauh dari orang tua harus saya jalani. Dan kehidupan inilah yang akan menuntun saya belajar setiap problematika dan solusi hidup. Bertemu dengan banyak orang baru dan unik akan memberi warna tersendiri dalam hidup kita. Lebih penting lagi bagi saya, bisa lebih mengerti dan memahami bagaimana kerasnya perjuangan hidup orang tua untuk mengangkat derajat kita agar lebih tinggi. Tentunya, pertemuan dengan rasa rindu yang mendalam sangat jauh berbeda rasanya dibanding pertemuan keseharian (tsaaahh..).
<cont..>
No comments:
Post a Comment