Menulis menurut saya harus dijadikan kebiasaan. Kenapa begitu? Agar setiap kejadian dalam kehidupan kita ada historynya, ada rekam jejaknya, dan ada nilai baik buruk yang bisa dipetik dan dipelajari kelak di kemudian hari. Namun, bagi sebagian orang, termasuk saya sendiri, tidak mudah mengungkapkan setiap detil kisah hidup menjadi sebuah tulisan. Saya tahu sekali rasanya, bagaimana untuk menelurkan satu kata saja hingga pas dengan maksud hati saya, rasanya beraaaaaatt bukan main. Pernah saya ikutan tren bikin diary harian, hiyaelah bro sis, kalo saya baca lagi itu diary langsung ngakak sampai sakit perut, apalagi pas bagian saya putus dengan pacar saya dulu, isinya kaya orang abis cerai, hahaha.
Tapi begitulah memang, biar masih kacau, buat saya, belajar menulis merupakan salah satu proses pengembangan diri. Mungkin saat ini tulisan saya masih tulisan yang tidak serius, tidak ilmiah, dan tidak menarik. Tapi dari tulisan tidak serius, tidak ilmiah, dan tidak menarik itulah saya mempelajari bagian mana dari tulisan saya yang perlu saya perbaiki. Saya suka membaca, kebanyakan nonfiksi sih, dan saya ingin menyempurnakannya dengan suka menulis #tsaahh. Bukan keinginan yang mustahil kan?
Bagi sebagian orang lainnya, menulis menjadi seolah separuh nafas dalam hidup. Sehari saja tidak menulis rasanya pengen mati. Lebay kedengarannya, tapi memang demikian adanya. Saya pun ingin menjadi seperti itu, menjadikan menulis sebagai kebutuhan hidup. Setidaknya kebutuhan untuk melegakan hati dan pikiran. Daripada saya ngomel-ngomel ga jelas dan bikin sakit hati banyak orang? Yaa sebenarnya sih ngomel-ngomel bukan tipe saya, yang cenderung diam, menangis, dan merutuk dalam hati kalo sedang marah. Hehe. Setidaknya kertas dan pena adalah the good listeners, yang tidak pernah protes saya mau cerita apaaaaa saja. Tapi kalo sekarang kertas dan pena udah klasik kali ya, tinggal ketik ketak ketuk di komputer/laptop dan voilaaaaa..here your story is..!!
Dan bagusnya, modernisasi sangat mendukung pengembangan kemampuan menulis kita. Mudah sekali sekarang untuk belajar dari penulis terkenal. Tidak perlu harus bertemu langsung dalam seminar di kota antah berantah yang jauh dari domisili kita. Cukup di meja kerja kita, buka komputer, konek ke internet, semua ilmu, tips and tricks, juga saran-saran membangun banyak kita temukan bergelimpangan di depan kita. Oke banget kan? Namun sayangnya, peluang kejahatan pun juga semakin lebar. Tidak sedikit oknum yang memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk tindakan kriminal. Salah satunya plagiat tulisan. Banyak juga penulis yang kecewa dan mengeluhkan adanya "cuplikan" tanpa ijin dan tidak mencantumkan sumbernya.
Seyogyanya tulisan harus buah pikiran kita sendiri, menarik, dan tentunya bermanfaat. Belum bisa bermanfaat? Setidaknya bisa membuat orang betah membaca sampe akhir kalimat tulisan kita. Masih membosankan dan tidak menarik? Setidaknya tulisan kita adalah jalinan ide-ide dari pikiran kita sendiri. Nah kalo belum bisa menumpahkan ide dari pikiran kita sendiri? Yaa mari kita belajar sedikit demi sedikit, dari mana saja, dari apa saja, dan dari siapa saja. Yuk sama-sama mengembangkan diri dan mulai ikut andil dalam menorehkan sejarah :D.
Sumber gambar: http://dewaded.blogspot.com; http://pkbmsekarmelati.blogdetik.com; http://www.sabirin.net


No comments:
Post a Comment